ASURANSI SYARIAH

PENGERTIAN ASURANSI ISLAM
Dalam bahasa arab, asuransi dikenal dengan istilah at-ta’min, penanggung disebut mu’ammi, tertanggung disebut mu’amman lahu atau musta’min. at-ta’min diambil dari amana yang artinya memberi perlindungan, ketenangan, rasa aman, dan bebas dari rasa takut. Pengertian dari at-ta’min adalah seseorang membayar/menyerahkan uang cicilan untuk agar ia atau ahli warisannya mendapatkan sejumlah uang sebagaimana yang telah disepakati, atau untuk mendapatkan ganti terhadaphartanya yang hilang.

Ahli fikih kontemporer wahbah az-Zuhaili mendefinisikan asuransi berdasarkan pembagiannya. Ia membagi asuransi dalam dua bentuk, yaitu at-ta’min at-ta’wun dan at-ta’min bi qist sabit. At-ta’min at-ta’wuni atau asuransi tolong menolong adalah: “kesepakatan sejumlah orang untuk membayar sejuimlah uang sebagai ganti rugo ketika salah satu seorang diantara mereka menapat kemudharatan.” At-ta’min bi qist sabit atau asurangsi sengan pembagian tetap adalah: “akad yang mewajibkan seseorang membayar sejumlah uang kepada pihak asuransi yang terdiri atas beberapa pemegang saham dengan perjanjian apabila peserta asuransi mendapat kecelakaan, ia diberi ganti rugi.”

Di Indonesia sendiri, asuransi islam sering dikenal dengan istilah. Kata istilah berasal dari istilah-yatakafalu, yang berarti menjamin atau saling menanggung.

Muhammad Syakir Sula mengartikan istilah dalam pengertian muamalah adalah saling memikul resiko di antara sesame orang, sehingga antara satu dengan yang lainnya menjadi penanggung atas resiko yang lainnya. Dalam Ensiklopedi Hukum Islam digunakan istilah at-takaful al-ijtima’I atau solidaritas yang diartikan sebagai sikap anggota masyarakat islam yang saling memikirkan, memerhatikan, dan merasakan penderitaan yang lain sebagai penderitaannya sendiri dan keberuntungannya adalah juga keberuntungan yang lain. Hal ini sejalan dengan HR. Bukhari Muslim: “orang-orang yang beriman bagaikan sebuah bangunan, antara satu bagian dengan bagian lainnya salaing menguatkan sehingga melahirkan suatu kekuatan yang besar”

Dewan Syariah Nasional pada tahun 2001 telah mengeluarkan fatwa mengenai asuransi syariah. Dalam fatwa DSN No.21/DSN-MUI/X/2001 bagian pertama mengenai ketentuan umum angka 1, disebutkan pengertian asuran syariah (ta’min, takaful atau tadhamun) adalah usaha saling melindungi dan tolong-menolong di antara sejumlah orang/ pihak melalui investasi dalam bentuk asset dan/atau tabarru’ yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapai risiko tertentu melalui akad (perikatan) yang sesuai dengan syariah.

LANDASAN HUUM ASURANSI SYARIAH
1. Al-Qur’an
Secara sepintas keseluruhan ayat al-Qur’an, tidak terdapat suatu ayatpun yang menyebutkan istilah asuransi seperti “al-ta’min” ataupun “al-takaful”. Walapun tidak menyebutkan secara tegas tentang konsep asuransi dan nilai-nilai dasar yang ada dalam praktik asuransi. Di antara ayat-ayat al-Qur’an tersebut antara lain:
a. perintah Allah untuk mempersiapkan hari depan
b. perintah Allah untuk saling menolong dan bekerja sama
c. perintah Alla untuk saling melindungi dalam keadaan susah
d. perintah Allah untuk bertawakal dan optimis berusaha
e. penghargaan Allag terhapadap perbuatan mulia yang dilakukan manusia

2. sunnah nabi SAW
Hadis tentang mengindari resiko
Diriwayatkan dari Anas bin Malik r.r, bertanya seorang kepada Rasullah SAW. Tentang (untanya): “apa (unta) ini saua okat saja atau langsung saya bertawakal pada (Allah SWT)?” bersabda Rasullah SAW.: “perta,a ikatlah unta itu kemudian bertawakalah kepada Allah SWT.” (HR. At-Turmudzi)
Nabi Muhammad SAW. Memberi tuntutan pada manusia agar selalu bersikap waspada terhadap kerugian atau musibah yang akan terjadi, bukannya langsung menyerahkan segalanya (tawakal) kepada Allah SWT. Hadis diatas mengandung nilai implicit agar kita selalu menghindar resiko yang membawa kerugian pada diri kita, baik itu berbentuk kerugian materi ataupun kerugian yang berkaitan langsung dengan diri manusia (jiwa). Praktik asuransi adalah bisnis yang bertumpu pada bagimana cara mengola risiko itu dapat diminimalisir pada tingkat yang sedikit (serendah) mungkin. Risiko kerugian tersebut akan terasa ringan jika dan hanya jika ditamggumh bersama-sama oleh semua anggota (nasabah) asuransi. Sebaliknya, apabila risiko kerugian tersebut hanya ditanggung oleh pemilikinya, maka akan berakibat terasa berat bagi pemilik resiko tersebut.

Warkum Sumitro menuliskan beberapa alas an dari kelompok yang mengharamakan asuransi dengan enam alas an \, sebagi berikut:
a. asuransi mengandung unsure perjudian yang dilarang didalam islam
b. asuransi mengandung unsure ketidakpaksaan
c. asuransi mengandung unsure ruba yang dilarang dalam islam
d. asuransi termasuk jual beli atau tukar menukatr mata uang yang tidak secara tunai
e. asuransi objek bisnisnya digantungkan pada hidup matinya seseoranh, yang berari mendahului takdir Allah SWT..
f. asuransi mengandung unsdur eksploitasi yang bersifat menekan

sedangkan para ulama yang memperbolehkan praktik asuransi diwakili oleh beberapa ulama. Argumentasi yang mereka pakai dalam membolehkan asuransi menurut Fathurrahman Djamil adalah sebagai berikut.
a. tidak terdapat nash Al-Qur’an atau Hadis yang melarang asuransi
b. dalam asuransi terdapat kesepakatan dan kerelaan antara kedua belah pihak
c. asuransi menguntungkan kedua belah pihak
d. asuransi mengandung kepentingan umum, sebab premi-premi yang terkumpul dapat diinvestasikan dalam kegiatan pembangunan.
e. Asuransi termasuk akad mudharabah antara pemegang polis dengan perusahaan asuransi
f. Asuransi termasuk syirkah at-ta’awujiyah, usaha bersama yang didasarkan pada perinsip tolong menolong

Dari kontroversi pandagan ulama natara yang mengharamkan dan menghalalkan, penting juga melihat ulama yang menyeleksi di antara macam-macam jenis suransi dan yang mengangap bahwa asuransi merupakan sesuatu yang bersifat subhat, yaitu sesuatu yang meragukan hukumnya. Abu Zahrah (guru besar Hukum Islam Universitas Cairo) berpendapat bahwa:”asuransi yang bersifat social diperbolehkan karena jenis asuransi social tidak mengandung unsur-yang dilarang dalam islam”. Sedangkan asuransi yang bersifat bisnis komersial, tidak diperbolehkan karena mengandung unsure-unsur yang dilarang islam. Masifuk Zuhdi berkomentar tentang pendapat Abu Zahrah tersebut bahwa alasan utama yang membolehkan asuransi social dan mengharamkan asuransi komersial adalah:”asuransi social pada garis besarnya sama dengan alasan pendapat kedua, yang menghalalkan; sedangkan alasan yang mengharamkan asuransi yang bersifat komersial pada garis besarnya sama dengan pendapat pertama yang mengharamakan.”
Karena itu, kita harus berhati-hati di dalam berhubungan dengan asuransi. Yang menggangap asuransi sebagai sesuatu yang syubhat juga menganggap bahwa ada sisi positif dan negative dalam asuransi yang tidak pernah dipraktikan sebelumnya dizaman Nabi Muhammad SAW.
Di pihak lain, pandangan ulama yang mengharamkan asuransi tampak bersikap keras dan tegas menetang konsep asuransi dan berpendapat bahwa kontrak asuransi asuransi bertentangan dengan standar-standar etika yang ditetapkan oleh hukum islam. Hal ini dikarenakan karena anggapan bahwa anggapan asuransi konvensional dipraktikan secara tidak adail, berbahaya, dan tidak pasti.
Dengan masih adanya pandangan yang mengharamkan praktik asuransi dan ada pula yang manganggap bahwa asuransi merupakan sesuatu yang syubhat sehingga harus dihindari, maka dicarilah jalan keluarnya dengan memberikan alternative bentuk asuransi yang sesuai dengan syariat islam yang sekarang dikenal dengan asuransi at-Takaful. Di Indonesia jenis asuransi takaful ini sudah berdiri sejak tahun 1994. kini telah banya perusahaan asuransi konvensional yang membuka cabang syariah yang mempraktikkan prinsip-prinsip hukum islam. Majelis Ulama Indonesia pada tanggal 16 desember tahun 2003 telah mengeluarkan fatwa haramnya bunga yang ditarik oleh perusahaan asuransi yang mengelola dana premi melalui deposito di bank konvensional.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: